Rabu, 25 September 2013

Peran IT dalam Perpustakaan (1)


PERANAN IT DALAM PENGELOLAAN PERPUSTAKAAN (1)
Perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) atau sering juga disebut ICT (Information Communication and Technology) telah memberi dampak yang signifikan dalam berbagai aspek kehidupan manusia. Dampak tersebut sangat jelas terlihat, khususnya pada badan atau instansi penyedia jasa layanan, seperti layanan perbankkan, kesehatan, transportasi, pendidikan, dan juga Perpustakaan. Khusunya dalam hal aktifitas layanan, Chauhan (2004) mengatakan bahwa secara garis besar ada empat manfaat penggunaan TIK, atau sering singkat dengan manfaat 4 E; yaitu “Economy (Murah), Easy (mudah),  Extension (Luas) (or expansion) and Efficiency” (efisien)
Namun dibalik manfaat tersebut, jika kita jeli dalam membaca tlisan-tulisan terkait informasi, kita juga menemukan berbagai istilah untuk menggambarakan kedahsyatan perkembangan informasi dewasa ini. Diantara istilah-istilah tersebut misalnya orang sering mengatakan “ledakan informasi” (Explode of Information), di bombardir oleh informasi (Bombardired by information),” Membanjirnya informasi (Flood of Information), membludaknya informasi (Information overload), dan lain-lain. Sayangnya, kesemua istilah tersebut berkonotasi negative. Dengan kata lain, kesemuanya bermakna bencana (catastrophe) Meskipun dipahami bahwa yang dimaksudkan oleh istilah-istilah tersebut hanyalah untuk menggambarkan banyaknya informasi yang tersedia saat ini, tapi pada kenyataannnya memang keadaan tersebut dapat menimbulkan keresahan dan kesukaran bagi para pencari informasi. Hal ini karena akibat terlalu banyaknya informasi yang tersedia dalam berbagai format dan media, akan menyulitkan pencarian informasi yang relevan dan terpercaya (reliable ) jika informasi tersebut tidak dikelola dengan baik. Oleh karena disadari bahwa perkembangan TIK lah yang telah membuat dahsyatnya perkembangan informasi, maka diharapkan TIK pulalah yang bisa menjadi solusi untuk mengatasi masalah tersebut di atas. Disini pulalah menjadi poin penting mengapa penerapan TIK dalam dunia informasi menjadi sangat signifikan diimplementasikan di Perpustakaan.


Mengapa demikian? Alasannya adalah perpustakaan merupakan salah satu dari sumber informasi yang telah memiliki kapabilitas dan kompetensi tentang arti dari informasi itu sendiri. Perpustakaan memiliki hak untuk mendapatkan, mengolah, memproses serta menyebarkan informasi yang terseleksi dan aktual kepada pengguna perpustakaan ataupun masyarakat luas. Jadi informasi yang dihasilkan oleh perpustakaan adalah informasi yang betul-betul berguna untuk masyarakat. Artinya informasi yang disajikan bukan semata-mata informasi yang biasa-biasa saja tetapi telah melalui tahapan pemrosesan oleh pustakawan yang memiliki kompetensi dalam menyajikan informasi tersebut.
Banyak pengertian kita temukan tentang pengertian teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Untuk lebih jelasnya kita perlu melihat secara terminologi kesemua gabungan kata itu satu persatu. Istilah Teknologi Informasi merupakan kombinasi dua istilah dasar yaitu teknologi,informasi dan Komunikasi. Teknologi dapat diartikan sebagai pelaksanaan ilmu, sinonim dengan ilmu terapan. Sedangkan pengertian informasi adalah sesuatu yang dapat diketahui. Namun, ada pula yang menekankan informasi sebagai transfer pengetahuan. Perbedaan definisi informasi ini dikarenakan, pada hakekatnya, informasi tidak dapat diuraikan (intangible), sedangkan informasi itu bisa dijumpai dalam kegiatan sehari-hari, yang diperoleh dari data dan dari observasi terhadap dunia sekitar kita serta diteruskan melalui komunikasi.  Sementara Komunikasi yang dimaksudakan dalam hal ini adalah komunikasi data yang memungkinkan komputer yang berdiri sendiri terintegrasi pada jaringan komputer baik pada tataran lokal maupun global dengan menggunakan software dan hardware jaringan. Secara sederhana, teknologi informasi dapat diartikan sebagai teknologi yang digunakan untuk menyimpan, menghasilkan, mengolah, serta menyebarkan informasi. Definisi tersebut menganggap bahwa teknologi informasi tergantung pada kombinasi komputasi dan teknologi telekomunikasi berbasis mikroelektronik (Ma’in: 2005). Revolusi informasi dengan kemampuan kolaborasi yang luar biasa dengan perangkat ICT tengah melanda lapisan masyarakat saat ini.Di dalam kamus the Dictionary of Computers, Information Processing and Telecommunications Teknologi informasi: “Teknologi pengadaan, pengolahan, penyimpanan, dan penyebaran berbagai jenis informasi dengan memanfaatkan komputer dan telekomunikasi yang lahir karena “... adanya dorongan-dorongan kuat untuk menciptakan teknologi baru yang dapat mengatasi kelambatan manusia mengolah informasi.  
Penerapan Teknologi Informasi dan Komunikasi di Perpustakaan sekarang ini ternyata tidak hanya merubah paradigma Perpustakaan sebagai gudang buku dan juga tidak terbatas sebagai tempat penyediaa jasa informasi, tetapi juga also Perpustakaan telah dipandang sebagai social software (Perangkat lunak social) yang setara dengan mesin Google, Yahoo, MSN, Amazon, Microsoft dan lain-lain yang bertujuan untuk melayani informasi masyarakat global.  Jadi, kalau sudah dianggap demikian, lalu apa perbedaan perpustakaan dengan software sosial lainnya? Apakah secara subtansi mereka sama? Jawabannya mereka beda. Mengapa demikian? Alasanya adalah perpustakaan merupakan salah satu dari sumber informasi yang telah memiliki kapabilitas dan kompetensi tentang arti dari informasi itu sendiri. Perpustakaan memiliki hak untuk mendapatkan, mengolah, memproses serta menyebarkan informasi yang terseleksi dan aktual kepada pengguna perpustakaan ataupun masyarakat luas. Jadi informasi yang dihasilkan oleh perpustakaan adalah informasi yang secara seubtansi betul-betul sesuai dengan kebutuhan masyarakat pengguna. Artinya informasi yang disajikan bukan informasi asalan, tetapi informasi yang tetapi telah melalui tahapan pemrosesan mulai dari proses seleksi, organisasi, sampai dengan distribusi kepada pemakai, yang dilakukan oleh pustakawan yang memiliki kompetensi dalam bidang perpustakaan dan informasi. Jika sudah demikian jelas bahwa orientasi hasil dari pengolahan dan pengelolaan informasi tersebut adalah untuk kepentingan pengguna (user oriented). Pengguna adalah target utama dari perpustakaan. Ini dilakukan adalah untuk memberikan layanan yang lebih berkualitas dan lebih baik. Menjadi hal yang penting dilakukan karena kemudahan akses informasi tidak semata-mata dimonopoli oleh perpustakaan, tetapi kondisinya justru sebaliknya. Perpustakaan terkadang kurang memperhatikan pekembangan perilaku dari pencari informasi yang selalu menginginkan layanan yang fleksibel, mudah, cepat seiring dengan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan semakin berkembanganya pemanfaatan perangkat teknologi informasi di perpustakaan telah memberi dampak pada perkembangan Perpustakaan. Perpustakaan terlihat semakin modernis dan dinamis menyesuaikan dengan tren teknologi terkini. Barangkali inilah yang dimaksudkan oleh “Bapak Perpustakaan” Ranganathan bahwa perpustakan sebagai “ living organism” yaitu sesuatu yang hidup dan berkembang sesuai zaman. Secara kasat mata, kita  bisa melihat bahwa perpaduan antara ilmu perpustakaan dan perangkat TIK saat ini telah bisa menghasilkan beragam produk layanan informasi kepada masyarakat yang lebih variatif dan interaktif. 
Berdasarkan paparan diatas, terlihat jelas bahwa alasan utama penerapan TIK di perpustakaan bukanlah sebuah trend kemajuan, tetapi lebih kepada tuntutan pengguna, khususnya generasi ”netizen ” yang sudah terbiasa menemukan informasi di ujung jari atau serba clik (clicable). Fenomena perubahan perilaku pencari informasi (information seekers changed behaviour) sangat penting direspon oleh perpustakaan. Karena jika tidak perpustakaan akan menjadi alternatif terkhir dikunjungi oleh pemustaka. Dapat dimaklumi karena karena mereka telah ”dimanjakan” dengan layanan internet on line yang memberi jutaan informasi dengan sekali “klik”meskipun tingkat kerelevansian dan keterpercayaannya belum terjamin. Terkait dengan faktor penggerak (generating factor) penerapan TIK di perpustakaan, Sulistyo Basuki (1993) ini menyebutkan bahwa faktor penerapan TIK di Perpustakaan adalah:
  • Kemudahan mendapatkan produk IT
  • Harga semakin terjangkau untuk memperoleh produk IT
  • Kemampuan dari teknologi informasi
  • Tuntutan layanan masyarakat yang serba "click", terutama "netizen"

Sementara itu, alasan penerapan TIK di Perpustakaan dapat di kategorikan sebagai berikut, yaitu:
  • Mengefektifkan  dan mengefisiensikan pekerjaan pustakawan 
  • Meningkatkan mutu layanan kepada pengguna perpustakaan
  • Meningkatkan penampilan perpustakaan dan citra pustakawan
  • Memperluas networking, baik nasional, regional dan global.

Minggu, 15 September 2013

Pencanangan Kobaca (Kota Batik Membaca)

ANDY NOYA - DUTA BACA INDONESIA 
DALAM KEGIATAN TALK SHOW DI PEKALONGAN


        Walikota M Basyir Ahmad mencanangkan Kota Batik Membaca (Kobaca) di Gedung Kesenian dan Olahraga Jetayu, Jumat (30/8). Duta Baca Indonesia Andy F Noya yang hadir pada Pencanangan Kota Batik Membaca hari itu, membagikan buku kepada siswa, guru dan pengelola taman baca. Tidak hanya membagikan buku, Andy F Noya juga menyebarkan ilmu dengan mengutip tulisan sejumlah penulis. "Man Jadda Wajada. Apa yang ditulis Ahmad Fuadi dalam buku Negeri lima Menara, mengajarkan kepada kita, bahwa siapa yang bersung-sungguh pasti akan berhasil," jelasnya.
Pada acara itu, Andy F Noya juga menghadirkan Ubaidillah Mochtar, guru SD Ciseel, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten yang juga pengelola Taman Baca Multatuli. "Taman baca kami awalnya hanya menumpang di rumah ketua RT. Tapi sekarang sudah mempunyai ruang sendiri," kata Ubaidillah. Karena keberhasilannya mengelola Taman Baca Multatuli di pelosoj desa, Andy F Noya memintanya membagikan ilmu bagaimana menghidupkan taman baca tersebut. Menurut Ubaidillah, taman baca bukanlah gudang buku, bukan pula museum.
"Harus ada kegiatan yang berkelanjutan yang membuat anak-anak menanti-nanti. Misalnya setiap bulan April ada buku baru dan kegiatan lainnya," paparnya. Itu pula yang dilakukan Ubaidillah dalam menghidupkan Taman Baca Multatuli. Di taman baca itu, Ubaidillah menyusun sejumlah kegiatan, di antaranya reading group, mengaji novel dan pentas teater. Selain itu, juga menerbitkan tulisan anak-anak dalam sebuah buku. "Jadi, dana itu tidak menjadi masalah. Yang terpenting berkreativitas," paparnya. Sementara itu, Walikota berharap, pencanangan Kota Batik Membaca bisa meningkatkan minat baca masyarakat Kota Pekalongan di semua lapisan. "Kami ingin semua masyarakat Kota Pekalongan mempunyai peluang sama dalam mendapatkan informasi," harapnya. Karena itu, pihaknya akan berupaya mewujudkan taman baca dan telecenter di semua RW di Kota Pekalongan. Dari 330 RW, saat ini sudah ada 260 taman baca. "Tahun ini diharapkan bisa dibangun 300 taman baca, dan tahun depan semua RW sudah mempunyai taman baca," katanya.
Kepala Kantor Perpustakaan dan Arsip Daerah (KPAD) Kota Pekalongan Maryati mengatakan, untuk meningkatkan minat baca masyarakat, KPAD mulai tahun depan tidak hanya mengoperasikan perpustakaan keliling. Tetapi juga akan mengirimkan buku ke taman baca yang lokasinya jauh dari perpustakaan. "Kami akan mengirimkan buku ke taman baca minimal 25 buku," terangnya. Pencanangan Kota Batik Membaca dihadiri ratusa siswa, guru san pengelola taman baca. Hadir Kepala Biro Umum Perpustakaan Nasional Imam Nurhadi. Menurut dia, peran perpustakaan sangat penting untuk meningkatkan minat baca masyarakat. "Minat baca sebenarnya tidak ada korelasi dengan perpustakaan. Tapi perpustakaan sangat vital bagi masyarakat yang tidak bisa membeli buku," terangnya. 



Buku baruku

BUKU BARU ... DATANG LAGI

Buku baru itu datang lagi. Sejumlah 342 exp 78 judul buku yang terbagi dalam 4 kelompok (Sains-Teknologi, Ilmu Pengetahuan-Ekonomi-Sejarah-Sosbid-Agama, Ensiklopedi-Kamus Bahasa, Umum-Fiksi-Ilmiah Populer) itu sudah nangkring di meja perpustakaan SMP menunggu proses penginventarisan buku.

Bantuan Pengadaan Buku Perpustakaan SMP Al-Irsyad  ini bersumber dari Bantuan Keuangan Tahun Anggaran 2013 APBD Tingkat I Jawa Tengah

Buku: Jendela Dunia

BUKU : JENDELA DUNIA

Buku adalah jendela dunia, kearifan lokal yang mendunia
merupakan pusaka kemanusiaan yang membuat peradaban berlangsung hingga hari ini
di dalamnya terkandung jiwa zaman sepanjang waktu
ia adalah jendela dunia yang mengandung hikmah masa lalu
penghargaan terhadapnya adalah pengagungan pada kemajuan bangsa


"buka buku, buka jendela duniaku"